oleh

Ekonomi Biru, Peta Jalan Penjajahan Baru

Habarnusantara.comBerau, identik dengan kepulauan Derawan. Kepulauan yang dijuluki sebagai surga tersembunyi ini, bahkan pernah dinobatkan sebagai situs warisan dunia Oleh UNESCO di tahun 2005. Tak ayal, sektor pariwisata selalu menjadi andalan bagi kabupaten ini sebagai salah satu sumber pemasukan daerah.

Ekonomi Biru pun menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Berau dalam membangun sektor perekonomian dari hasil laut melalui perikanan, kelautan, dan pariwisata yang berkelanjutan. Langkah ini dipaparkan Bupati Berau Sri Juniarsih dalam ajang high level forum on Blue Natural Capital, Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang berlangsung di Sekretariat CTI-CFF di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (8/6/2024). ( https://kaltimtoday.co/komitmen-wujudkan-ekonomi-biru-pemkab-berau-pamer-potensi-bahari-di-ajang-cti-cff-2024 )

Bupati wanita pertama di Berau itu mengakui besarnya potensi bahari dan program pembangunan dari sektor kelautan di kabupaten yang ia pimpin. Hal ini terlihat dengan ditetapkan kawasan konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil dengan luas 285 ribu hektar lebih di Bumi Batiwakkal.

 

Ada apa di balik Ekonomi Biru?

Indonesia memiliki keindahan bahari dan hasil laut dengan kualitas terbaik. Hal ini tampak dari kecantikan pulau-pulau yang tersebar di seluruh pelosok nusantara serta kecantikan isi lautnya seperti terumbu karang dan tumbuhan laut. Luas terumbu karang yang dimiliki Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi. Artinya, luas terumbu karang di nusantara menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di Coral Triangle.

Sementara itu, terumbu karang di Kepulauan Derawan tersebar luas pada seluruh pulau dan gosong yang ada di Kepulauan Derawan. Gosong-gosong yang ada di kepulauan ini di antaranya Gosong Pulau Panjang, Gosong Masimbung, Gosong Buliulin, Gosong Pinaka, Gosong Tababinga dan Gosong Muaras.

Terumbu karang di Kepulauan Derawan terdiri dari karang tepi, karang penghalang dan atol. Atol inilah yang telah terbentuk menjadi pulau dan terbentuk menjadi danau air asin. “Survei Manta Tow 2003” menunjukkan tutupan rata-rata terumbu karang di Pulau Panjang adalah 24,25% untuk karang keras dan 34,88 untuk karang hidup. Terumbu karang di Pulau Derawan memiliki tutupan rata-rata karang karang keras 17,41% dan tutupan karang hidup 27,78%. Dengan jumlah spesies 460 sampai 470 menunjukkan kekayaan biodiversitas kepulauan Derawan berada di peringkat kedua setelah Kepulauan Raja Ampat. Wajar, potensi yang menggiurkan ini menarik minat banyak pihak untuk menguasai dan mengeksploitasi kekayaan potensi laut Indonesia.

Berkedok ekonomi biru (Blue Economy) peta jalan penjajahan itu terbuka lebar. Pengamat politik ekonomi Zikra Asril menilai, Ekonomi biru adalah agenda global yang didesain Bank Dunia dengan prinsip liberalisasi.

Laporan Laut untuk Kesejahteraan: “Reformasi untuk Ekonomi Biru di Indonesia” yang dirilis Bank Dunia disebutkan peran laut sangatlah penting bagi kesejahteraan Indonesia dengan sektor perikanan senilai US$27 miliar, menghidupi 7 juta tenaga kerja, dan memenuhi lebih dari 50% kebutuhan protein hewani di Indonesia.

Oleh karenanya, Bank Dunia merekomendasikan agar pemerintah mendukung sektor perikanan yang berkelanjutan dan produktif dengan memanfaatkan potensi dukungan dari dana abadi nasional serta kemitraan dengan sektor swasta dengan skema bantuan berupa investasi dan utang.

Zikra juga menjelaskan, dalam upaya pengembangan ekonomi biru ini dibutuhkan dana sebesar US$1,64 triliun. Sementara itu, menurutnya, target untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor maritim menjadi 15% pada 2045 akan mengakibatkan negara terjerat utang baru untuk pembiayaan konservasi dan infrastruktur penunjang ekonomi biru. Utang ini sekaligus jeratan investasi bisnis ekstraksi hasil laut dan pariwisata laut. Sehingga makin jelas terlihat ekonomi biru adalah agenda neoliberal untuk memperluas kapitalisasi di wilayah lautan dengan dalih menyelamatkan lingkungan.

  • Pandangan Islam

Islam adalah ideologi yang memandang laut sebagai bagian sumber daya alam. Pernyataan itu berasal dari sabda Rasulullah saw.,

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Dari hadis di atas, laut adalah bagian dari air. Islam menyatakan bahwa laut itu milik rakyat dan dikelola oleh negara. Hasil dari pengelolaan itu dikembalikan kepada rakyat. Negara tidak berhak memberi kesempatan kepada asing untuk menguasai kekayaan hayati. Apalagi mengizinkan mereka membuat pabrik dan menguasai kekayaan alam.

Islam juga akan memperhatikan keseimbangan alam dan tidak akan merusaknya karena menjaga kelestarian alam salah satu perintah Allah Swt.,

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS Al-Araf: 85)

Dalam Islam, kedaulatan adalah hal yang utama karena menyangkut kehormatan negara dan disegani oleh negara lainnya. Bagi negara kepulauan, tidak boleh seenaknya mengizinkan asing memasuki wilayahnya. Hal ini demi menjaga keamanan dan kedaulatan negara.

Negara perlu memiliki perlindungan yang mumpuni dengan alutsista yang canggih. Menempatkan setiap tentara di perbatasan-perbatasan. Jangan sampai ada negara asing menyerang atau masuk.

Jadi, mengikuti peta jalan ekonomi biru tidak akan membawa negeri ini menjadi negara maju, disegani, apalagi dihormati. Yang ada hanya sebagai pelumas kapitalisasi gaya baru. Hanya Islam yang dapat menjaga dan memanfaatkan keragaman kekayaan laut dengan benar. Sebagai orang beriman di mana seharusnya kita berpijak.

Wallahi a’lam bhisawwab[]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *