HABARNUSANTARA, KALTIM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk Selasa, 20 Oktober 2026. Sebanyak 17 wilayah di Indonesia berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Peringatan ini berlaku di tengah kondisi musim yang masih didominasi kemarau. Berdasarkan prakiraan cuaca mingguan periode 16-22 Oktober 2026, BMKG mencatat sekitar 76 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. Wilayah yang terdampak paling luas meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian besar Sulawesi.
Sementara itu, baru sekitar 8 persen ZOM yang telah memasuki musim hujan. Kondisi transisi ini berpotensi memperpanjang kekeringan meteorologis di sejumlah daerah yang curah hujannya masih minim. Daerah yang perlu waspada kekeringan meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta Papua Selatan.
Baca juga
- IHSG Anjlok ke 4996 Hari Ini, 4 Saham Ara
- Resmi Kapolri Suyudi Ario Seto Ziarah Makam Marsinah di Nganjuk
Meski mayoritas wilayah masih kemarau, potensi hujan di 17 wilayah dan hujan lokal tetap tinggi akibat dinamika atmosfer yang aktif.
BMKG menjelaskan ada tiga faktor utama yang memicu pertumbuhan awan hujan hari ini.
Pertama, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif secara spasial di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. MJO yang aktif meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan konvektif.
Kedua, Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera. Gelombang ini memperlambat pergerakan sistem cuaca sehingga awan hujan bertahan lebih lama.
Ketiga, Gelombang Kelvin diprediksi aktif di wilayah yang lebih luas. Meliputi sebagian besar Sumatera Selatan, Bangka Belitung, hampir seluruh Kalimantan, pesisir selatan Jawa, sebagian besar Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Gelombang Kelvin dikenal sebagai pemicu hujan dengan durasi singkat namun intensitas tinggi.
Selain gelombang atmosfer, BMKG juga mendeteksi adanya pola pertemuan angin atau konvergensi dan perlambatan kecepatan angin di Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua. Pola ini menyebabkan penumpukan massa udara basah yang mempercepat pertumbuhan awan cumulonimbus.
Baca juga:
- Resmi PDIP Proses Pemecatan Hamenang Setelah Jadi Tersangka OTT KPK
- Kemenhan Kini Punya 2 Wamenhan Baru Hadapi Ancaman Modern
Faktor pendukung lainnya adalah suhu muka laut yang masih hangat di perairan Indonesia. Suhu yang hangat meningkatkan penguapan dan ketersediaan uap air di atmosfer.
Kombinasi dari MJO, Gelombang Rossby, Gelombang Kelvin, konvergensi angin, dan suhu muka laut hangat tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang secara lokal. Demikian keterangan resmi BMKG pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Untuk periode peringatan dini 19-21 Oktober 2026, BMKG menegaskan tidak ada wilayah yang berstatus Siaga atau Awas. Artinya, tidak ada potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem. Seluruh wilayah yang masuk daftar berstatus Waspada, yaitu hujan sedang hingga lebat pada 17 wilayah.
Berikut rincian 17 wilayah yang perlu waspada pada Selasa, 20 Oktober 2026.
14 Wilayah Potensi Hujan Sedang Hingga Lebat:
1. Aceh
2. Sumatera Utara
3. Sumatera Barat
4. Kepulauan Riau
5. Bengkulu
6. Kalimantan Barat
7. Kalimantan Timur
8. Papua Barat Daya
9. Papua Barat
10. Papua Tengah
11. Papua Pegunungan
12. Papua
13. Papua Selatan
14. Kalimantan Utara
3 Wilayah Potensi Angin Kencang:
1. Banten
2. Jawa Timur
3. Papua Pegunungan
BMKG mengimbau masyarakat di 17 wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada sore hingga malam hari saat potensi hujan petir biasanya mencapai puncak.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, nelayan, dan pengguna transportasi laut diminta mewaspadai potensi angin kencang yang bisa terjadi tiba-tiba. Hindari berteduh di bawah pohon besar atau baliho yang rawan roboh saat angin kencang.
Selain itu, masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor diminta untuk memantau kondisi lingkungan sekitar. Pastikan saluran air tidak tersumbat dan siapkan langkah mitigasi dini.
BMKG juga meminta pemerintah daerah untuk menyiagakan tim kebencanaan. Informasi prakiraan cuaca terkini dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi http://bmkg.go.id, atau media sosial resmi BMKG.
Meski hujan mulai turun di beberapa wilayah, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau belum sepenuhnya berakhir. Masyarakat di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tetap diminta menghemat penggunaan air bersih dan mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan.






