HABARNUSANTARA.COM, Jakarta – Pemerintah menyiapkan pembangunan tempat penampungan minyak mentah atau crude storage di beberapa daerah di Pulau Sumatra. Sarana ini akan digunakan untuk menyimpan minyak mentah yang didatangkan dari luar negeri, sehingga cadangan stok nasional nantinya bisa bertahan hingga 60 hari.
Rencana tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (3/11).
Target Stok Minyak Mentah Mencapai 60 Hari
Bahlil menegaskan, pemerintah akan membangun sejumlah fasilitas penyimpanan di wilayah Sumatra untuk mengantisipasi kebutuhan saat impor crude dilakukan. Dengan adanya fasilitas itu, ketahanan stok minyak mentah ditargetkan bisa mencapai dua bulan.
Baca juga:
“Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” ucap Bahlil seperti dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Rabu (4/11/2026).
Studi Kelayakan Rampung, Survei Lokasi Dimulai Akhir Tahun
Utamakan Aspek Keselamatan dan Mitigasi Bencana
Menurut Bahlil, kajian kelayakan atau feasibility study pembangunan crude storage tersebut sudah selesai. Selanjutnya, pemerintah akan mulai melakukan survei lokasi pada akhir tahun ini.
Penentuan lokasi akan mempertimbangkan aspek teknis, faktor keselamatan, hingga mitigasi risiko bencana. Pemerintah ingin memastikan pembangunan infrastruktur energi ini berjalan terencana dan sesuai standar keamanan.
Baca juga:
“Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan,” tegasnya.
Pemerintah Dorong Bioetanol E20 Hingga E50
Selain memperkuat infrastruktur penyimpanan, pemerintah juga terus mengembangkan energi alternatif melalui bioetanol. Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo sempat menanyakan kesiapan penerapan bioetanol E20.
Bahlil menyebut, pemerintah telah menyusun rencana strategis pengembangan bioetanol secara bertahap, dari E20 hingga E50.
Pengembangan itu akan dikerjakan lewat kerja sama lintas kementerian, terutama Kementerian ESDM dan Kementerian Pertanian untuk memastikan ketersediaan bahan baku dari sektor hulu.
Baca juga:
“E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM,” ujar Bahlil yang juga menjabat Menteri ESDM.
Program Biodiesel B50 Tetap Berlanjut
Kurangi Ketergantungan Impor BBM Fosil
Di sisi lain, pemerintah memastikan program mandatori biodiesel B50 tetap berjalan. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan energi dalam negeri, menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional.
Melalui pembangunan crude storage, pengembangan bioetanol, dan keberlanjutan program B50, pemerintah mempercepat transformasi sektor energi nasional. Langkah terpadu ini diharapkan dapat memperkuat keandalan pasokan, menambah fleksibilitas pengelolaan energi, serta mewujudkan sistem energi Indonesia yang tangguh, mandiri, dan kompetitif di tengah dinamika global.






