oleh

Ibadah Haji Menjadi Jalan Raih Persatuan Umat

Habarnusantara.com – Alhamdulillah, di Tanah Suci pada tanggal 9 Dzulhijjah 1445 H umat Islam seluruh dunia sedang berkumpul guna melaksanakan wukuf di Arafah yang merupakan bagian dari rangkaian ibadah haji. Pada hari Arafah tahun ini, ada tiga juta lebih kaum Muslimin melaksanakannya. Yang berasal dari seluruh penjuru dunia termasuk jemaah asal Indonesia. Rasulullah saw. bersabda, “Inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah,” (HR. Tirmidzi)

Dalam ajaran Islam, penentuan Hari Arafah tentu berkaitan dengan penentuan awal bulan Dzulhijjah. Sebagaimana perintah perintah Rasulullah saw., penentuan awal Dzulhijjah tidak boleh mengikuti otoritas pemimpin negeri masing-masing. Namun, wajib berdasarkan pengumuman Amir Makkah.

Amir Makkah, al-Harits bin Hatib, telah menyampaikan khutbah kepada kami, seraya berkata: “Kami telah diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk mengerjakan manasik (ibadah haji karena melihat hilal (bulan Dzulhijjah). Jika kami tidak melihat hilal, lalu ada dua orang saksi yang adil melihat hilal, maka kami pun akan mengerjakan manasik haji berdasarkan kesaksian mereka berdua.” (HR. Abu Dawud dan ad-Daraquthni).

Merujuk dalil di atas sudah seharusnya kaum Muslim seluruh dunia bersatu dalam pelaksanaan Idul Adha. Apatah lagi pelaksanaan ibadah haji ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. hingga Khulafaur Rasyidin. Ibadah haji merupakan melting point atau titik lebur kaum Muslim global, tanpa lagi membedakan suku bangsa, bahasa, warna kulit, status sosial, si kaya atau si miskin, pejabat atau bukan.

Seluruh jemaah menyatu melebur dalam suasana penuh keharuan dan kekhusyukan di hadapan Sang Khaliq Yang Maha Esa. Para jemaah mengenakan pakaian ihram, tampak putih bersinar tertimpa matahari. Melantunkan kalimat talbiyah dengan syahdu yang terkadang diiringi linangan air mata, bak hujan jatuh berderai tanpa terbendung. Semua tiada lain hanyalah mengharapkan pengampunan dan semata rida Allah Swt.

Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi, adalah ulama Mesir dan seorang mufasir menuturkan, “Di tengah-tengah persatuan (ibadah haji) ini berbagai suku bangsa, warna kulit dan bahasa manusia melebur (menjadi satu). Karena itu tak ada yang pantas untuk dijadikan atribut (identitas) Selain Islam dan tidak ada yang perlu diperhitungkan kecuali iman.”

Jadi perlu dipahami, tidak ada satu pun agama dan ideologi yang sukses meleburkan umat manusia ke dalam sebuah wadah pemersatu selain Islam. Sebuah ajaran agama yang telah terbukti berabad-abad lamanya menyatukan umat dalam ikatan akidah Islam yang mulia dan kokohnya ikatan ukhuwah islamiyah. Sebagaimana Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara… (TQS. al-Hujurat: 10)

Sungguh, betapa indah perumpamaan kebersamaan kaum Mukmin. Sampai-sampai Rasulullah saw. menggambarkannya laksana satu tubuh. Seperti sabda beliau dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya,”Perumpamaan kaum Mukmin itu dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan demam (turut merasakan sakitnya).

Oleh karenanya, sungguh ironi jika seorang Muslim enggan merasakan penderitaan yang mendera nasib saudara Muslimnya yang lain. Bisa saja di tempat yang berbeda kita tidak mengalami kekejian fisik berlumuran darah, luka menganga di sekujur tubuh, kelaparan, dan kesedihan lainnya. Tetapi hati dan jiwa kita dapat merasakan penderitaan mereka. Itulah tanda keimanan seseorang. Ia mencintai saudaranya selayaknya ia mencintai dirinya sendiri. Rasulullah saw. telah mengingatkan perkara ini dalam sabdanya, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Muttafaq ‘alayh)

Patutlah menjadi renungan kita bersama? Sudahkah umat Islam hari ini seperti perumpamaan satu tubuh dalam persatuan dan kebersamaan? Ataukah sebatas slogan tanpa makna? Kita telah menyaksikan tiga juta lebih kaum Muslim melaksanakan ibadah haji dan berkumpul di Tanah Suci berharap keridaan-Nya. Namun, tatkala ritual ibadah haji selesai dan pulang ke negeri masing-masing. Masihkah tersisa persatuan dan kebersamaan?. Apakah terbetik di hati mereka untuk menolong dan membebaskan saudaranya dari keterpurukan dan penderitaan. Tentulah yang dimaksud, tidak hanya kepekaan sosial tapi jiwa sebagai saudara seiman, atas apa yang menimpa saudara muslim kita.

Sampai hari ini, kita masih terus disuguhkan berita-berita pilu terkait saudara-saudara kita di Palestina, Gaza, Rafah. Mereka mengalami genosida, pembantaian dan penindasan luar biasa dari zionis laknatullah. Bahkan Ironisnya, semua bisa langsung disaksikan di media sosial seakan tak berjarak. Seluruh bangunan hancur lebur, fasilitas rusak berat, akses jalan rusak parah. Mayat-mayat bergelimpangan, bayi dan anak-anak tak berdosa menjadi korban kebrutalan dan kebiadaban zionis Israel. Lebih 36 ribu rakyat Gaza tewas mengenaskan akibat serangan militer zionis Israel. Warga Gaza yang tersisa terancam kelaparan.

Anehnya, melihat pembantaian di atas para penguasa Dunia Islam seolah diam seribu bahasa kecuali sekadar ucapan mengutuk dan mengirim bantuan logistik. Bahkan sebagian dari mereka menjalin hubungan mesra dengan dengan membuka hubungan diplomatik dan perdagangan. Hari ini pula, semua mata menyaksikan bagaimana penguasa Mesir menutup pintu gerbang untuk pengungsi Gaza di perbatasan. Selain itu, menolak membuka pintu untuk memberikan bantuan kepada saudara seakidah.

Perlakuan lebih menyedihkan juga ditampakkan para penguasa Dunia Islam dengan melarang aksi dukungan terhadap Palestina dan malah menangkapnya para peserta aksi pengunjuk rasa. Padahal Rasul saw. telah tegas memperingatkan kepada pemimpin yang zalim, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Ahmad,”

Miris menyaksikan sikap para pemimpin Dunia Islam tidak memiliki kepekaan sedikit pun, kepentingan bisnis telah mematikan hati nurani mereka. Jika saja para pemimpin Dunia Islam peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina, mereka cukup memberikan perlindungan kepada warga Palestina dengan menggerakkan tentara militer untuk menumpas kejahatan militer zionis. Bukan malah menggantungkan perdamaian dan meminta pertolongan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Apatah lagi telah diketahui wadah itu penyokong Yahudi.

Paham nasionalisme adalah penyebab utama hancurnya ikatan akidah di tubuh umat. Konsep nation-state berhasil mencerai-beraikan persatuan dan ukhuwah di antara sesama saudara. Pemimpin Dunia Islam cuek dan abai akan nasib yang menimpa saudaranya, meski berada di atas satu tanah. Wajar, jika kemudian Rasulullah melarang perbuatan berbangga-bangga pada suku, ras, bangsa, atau ikatan yang bersifat emosional yang lahir dari gharizah baqa’, sebab merupakan perbuatan jahiliyah yang hina.

Di satu sisi paham nasionalisme mempersatukan manusia, namun di sisi lainnya anti egaliter terhadap bangsa-bangsa. Dampak yang paling menonjol dari nasionalisme dapat memecah-belah umat, memicu konflik, disintegrasi dan sebagainya. Seperti yang terjadi juga pada abad ke-19 dengan munculnya gerakan-gerakan nasionalisme di Arab yakni Al-Jam’iyah As-Suriyah dan Al-Jam’iyah As-Sariyah (1912)

Seorang tokoh Hans Kohn mengatakan, nasionalisme adalah keadaan pada individu yang dalam pikirannya merasa bahwa pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah. Jadi sangat jelas buruknya paham nasionalisme itu dan Rasul tegas mengingatkan agar tidak mengadopsi dan menerapkan dalam kehidupan berbangsa maupun bernegara.

Rasulullah saw. bersabda: “Jika ada orang membangga-banggakan kebanggaan jahiliyah, maka suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadapnya.” (HR. Ahmad)

Umat harus menyadari, bahwa paham nasionalisme atau nation-state sengaja dirancang oleh Barat menjadi negara boneka mereka, sehingga Barat dengan mudah menjajah dan menguasai negeri-negeri Muslim dunia. Termasuk pemeliharaan Barat terhadap zionis Isra3l menjadi kanker ganas di jantung kaum Muslim. Oleh karena itu, permasalahan saudara kita di Palestina, di Myanmar, India, Cina, dan berbagai belahan dunia lain hanya bisa diselesaikan dengan bersatunya umat di bawah sebuah Institusi Negara Islam, di bawah kepemimpinan seorang Khalifah.

Hanya di tangan Khalifah perlindungan dan penjagaan terhadap umat bisa terlaksana. Rasulullah saw.,menuturkan dalam hadis yang diriwayatkan Muslim yakni, ”Sungguh Khalifah adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikan dirinya pelindung.”

Urgen, keberadaan negara Islam sebagai negara adidaya dan super power bagi kekuatan kaum muslimin global. Sebab, hanya dengannya militer akan digerakkan dan jihad akan ditegakkan. Sehingga penjajah zionis Isra3l dan seluruh anteknya bisa diperangi dan ditumpas hingga ke akar-akarnya. Daripada itu, AS tidak akan lagi berani mendikte para pemimpin Dunia Islam. Alhasil, manakala syariah Islam diterapkan di lini kehidupan berbangsa dan bernegara, maka kejayaan peradaban emas akan mudah dicapai sebagai bangsa yang besar, disegani, berwibawa, dan terbaik seperti tempo dahulu.
Wallahu a’lam bishawwab[]

Oleh: Mimy Muthmainnah
(Pegiat Literasi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *