Habarnusantara, SAMARINDA – Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) mendorong perguruan tinggi di Kalimantan Timur memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dinamika geopolitik global, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dorongan tersebut disampaikan Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily dalam kegiatan Lemhannas Goes to Campus di Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda. Kegiatan tersebut dirangkai dengan kuliah umum serta penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Lemhannas RI dan Universitas Mulawarman.
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Universitas Mulawarman dan dihadiri para pimpinan perguruan tinggi atau rektor se-Kalimantan Timur. Dalam kesempatan tersebut, Ace menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurut Ace, penguatan karakter kebangsaan menjadi semakin penting karena Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik, persaingan teknologi antarnegara, perubahan iklim hingga perubahan struktur demografi.
“Yang kita hadapi tidaklah mudah, apalagi di tengah situasi geopolitik global yang penuh dengan ketidakpastian, persaingan teknologi antarnegara, serta berbagai tantangan lain seperti perubahan iklim dan perubahan struktur demografi yang perlu diantisipasi oleh semua komponen bangsa, termasuk perguruan tinggi,” kata Ace.
Ia menilai mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa perlu memiliki kemampuan intelektual sekaligus karakter yang kuat. Rasa cinta tanah air, sikap patriotis dan tanggung jawab sosial dinilai menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang akan mengambil peran dalam pembangunan Indonesia menuju 2045.
“Kalau mereka memiliki karakter kebangsaan, patriotis, cinta terhadap tanah air, maka apa yang mereka dapatkan di dalam proses pembelajaran di bangku kuliah ini tentu kita harapkan akan memberikan dampak kepada kemajuan bangsa kita,” ujarnya.
Ace juga menyoroti posisi strategis Kalimantan Timur seiring berlangsungnya pembangunan IKN. Menurutnya, pembangunan pusat pemerintahan baru tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kualitas SDM lokal agar masyarakat daerah mampu mengambil bagian dalam berbagai peluang pembangunan yang muncul.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi di Kalimantan Timur dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan SDM yang kompeten sekaligus memiliki wawasan kebangsaan. Kontribusi perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berdampak bagi Kaltim, tetapi juga mendukung pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
“Dampaknya bukan saja terhadap Kalimantan Timur, tetapi upaya kita untuk mendorong pemerataan pembangunan sehingga bisa melahirkan Indonesia sentris, Indonesia yang merata, Indonesia yang berkeadilan,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi, Ace secara khusus mengingatkan perguruan tinggi agar memperkuat kemampuan berpikir analitis mahasiswa. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) harus tetap diimbangi dengan kemampuan mahasiswa memahami, mengkritisi dan menganalisis informasi secara mandiri.
“Jangan sampai kita kehilangan semangat untuk mendorong kecerdasan yang sifatnya analitis,” tegas Ace.
Ia menjelaskan AI bekerja berdasarkan algoritma sehingga pengguna tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memahami konteks dan menilai informasi yang dihasilkan teknologi. Mahasiswa diharapkan tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas dalam proses pembelajaran, melainkan memanfaatkannya sebagai alat pendukung untuk memperkaya pengetahuan.
“AI, kecerdasan buatan, jangan sampai membuat anak-anak muda kita melahirkan anak-anak muda yang berpikir instan, tidak memiliki kemampuan analitis yang mendalam terhadap berbagai pengetahuan yang didapatkannya,” kata Ace.
Selain kemampuan akademik dan analitis, Ace menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui proses pendidikan dan pengalaman langsung. Menurutnya, kepemimpinan, empati, kepedulian, kedisiplinan dan tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya diperoleh melalui teknologi AI, tetapi membutuhkan interaksi sosial dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita tidak boleh punya ketergantungan terhadap AI karena pembentukan karakter itu tidak bisa dipelajari di artificial intelligence,” ujarnya.
Ace menegaskan pendidikan, termasuk pendidikan kebangsaan, harus tetap bertumpu pada jati diri bangsa. Karena itu, kearifan lokal, nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran di perguruan tinggi agar kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan karakter generasi muda.
Melalui Lemhannas Goes to Campus dan kerja sama dengan Universitas Mulawarman, Lemhannas RI mendorong sinergi antara institusi pendidikan dan lembaga negara dalam memperkuat ketahanan nasional. Penguatan kualitas SDM, kemampuan berpikir kritis, karakter kebangsaan dan pemanfaatan teknologi secara bijak diharapkan menjadi modal penting bagi generasi muda Kaltim untuk menghadapi pembangunan IKN sekaligus berkontribusi menuju Indonesia Emas 2045.







Komentar