HABARNUSANTARA, SAMARINDA – Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sarkowi V Zahry, menegaskan bahwa swasembada pangan masih menjadi program prioritas pemerintah daerah dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan Kaltim hingga kini masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah.
Menurut Sarkowi, kebutuhan pangan Kaltim masih banyak dipasok dari daerah lain seperti Jawa dan Sulawesi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya menuju swasembada pangan membutuhkan kerja keras, kerja cepat, dan sinergi semua pihak.
“Target swasembada pangan yang disampaikan Menteri Pertanian dan telah disanggupi Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, dalam waktu enam bulan tentu bukan target yang ringan,” kata Sarkowi, Kamis (18/12/2025).
“Artinya, seluruh simpul hingga level paling bawah harus bergerak dan berkoordinasi dengan baik,” ujarnya lagi.
Ia menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi, salah satunya persoalan lahan pertanian.
Meski Kaltim telah memiliki Peraturan Daerah tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, yakni Perda Nomor 1 Tahun 2013 yang diperbarui melalui Perda Nomor 13 Tahun 2016, alih fungsi lahan masih terus terjadi.
“Faktanya, masih banyak lahan pertanian yang dialihfungsikan. Salah satu penyebabnya karena petani merasa dukungan yang diterima kurang maksimal, prosesnya lambat, dan hasil produksinya menurun,” sebutnya.
“Akhirnya ada yang memilih menjual lahan demi mendapatkan penghasilan cepat,” jelasnya.
Selain lahan, Sarkowi juga menyoroti keterbatasan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan pupuk yang tidak stabil, persoalan air, hingga fluktuasi harga hasil panen.
Dia menilai, saat petani memasuki masa panen, justru harga sering kali turun dan merugikan mereka.
“Kondisi-kondisi ini kalau tidak segera diatasi bisa berdampak serius. Saya khawatir petani akan sampai pada titik frustrasi dan akhirnya meninggalkan profesi bertani,” katanya.
Sarkowi menegaskan bahwa menjadi petani memang membutuhkan ketangguhan menghadapi berbagai situasi, mulai dari cuaca hingga risiko produksi.
Namun, tanpa dukungan nyata dan hasil yang layak, profesi petani bisa kehilangan daya tarik, terutama bagi generasi muda.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran semua pihak, termasuk pemerintah dan petani milenial.
Kerja sama ini untuk memberikan edukasi dan harapan bahwa sektor pertanian masih menjanjikan jika dikelola dengan komitmen bersama.
“Saya tidak setuju dengan ungkapan bahwa kalau mau kaya jangan jadi petani. Ungkapan seperti ini jangan sampai terus muncul,” imbuhnya.
“Menjadi petani juga harus dimunculkan kebanggaannya, karena kehidupan kita semua sangat bergantung pada jasa para petani,” tegas Sarkowi.
Politisi Golkar itu berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat menyusun blueprint atau peta jalan swasembada pangan.
“Harus yang realistis dan berkelanjutan, sehingga sektor pertanian di Kaltim mampu berdiri kuat dan menjadi tumpuan ketahanan pangan daerah,” Sarkowi memungkasi.











Komentar