oleh

Algo Sapiens: 5 Bahaya Tersembunyi Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

Habarnusantara.com, Jakarta – Algo Sapiens: 5 Bahaya Tersembunyi Ketika Manusia Dikendalikan Mesin.

Muncul paradoks besar dengan hadirnya budaya digital. Awalnya, manusia menciptakan mesin pintar untuk membantu mengatasi problem hidup agar lebih mudah dan nyaman. Namun, perlahan-lahan mesin berbalik mengendalikan bagaimana manusia berpikir dan berperilaku. Inilah fase baru yang disebut Algo Sapiens.

Istilah Algo Sapiens diperkenalkan oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers, untuk menggambarkan pergeseran dari homo sapiens ke manusia yang dikendalikan algoritma.

Apa Itu Algo Sapiens?

Algo Sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot. Dia tetap manusia yang memiliki tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga dan kehidupan sosial. Akan tetapi, metode dan kebiasaan berpikirnya berubah karena dikendalikan oleh algoritma.

Semakin banyak keputusan dalam hidupnya dibentuk oleh sistem algoritmik: apa yang dibaca, apa yang ditonton, barang apa yang dibeli, berita apa yang dipercayai, bahkan apa yang dianggap penting. Meskipun hidupnya dikendalikan dari luar, algo sapiens tetap merasa memiliki kebebasan karena tidak melihat rantai pengikatnya.

Manusia membuat algoritma – diambil dari nama Al-Khawarizmi – untuk membantu menganalisis berbagai masalah. Namun pada akhirnya tanpa disadari berbagai keputusan itu diserahkan kembali kepada algoritma yang selalu memantau dan memberi rekomendasi.

1. Dari Membantu Menjadi Mengendalikan

Selama ribuan tahun manusia membangun peradaban berdasarkan pikiran dan pilihan bebasnya. Kebebasan bukan berarti selalu memperoleh apa yang diinginkan, tetapi memiliki ruang untuk menentukan pilihan.

Tetapi sekarang teknologi digital hadir memperkenalkan jenis kekuasaan baru yang tidak terlihat sosoknya, namun sangat efektif pengaruhnya. Jika kekuasaan lama bekerja dengan perintah: “Lakukan ini atau itu!”, teknologi digital hadir dengan bujuk rayu halus: “Saya tahu apa yang Anda inginkan dan saya punya saran.”

Di sinilah pemikiran Shoshana Zuboff menjadi penting. Dalam bukunya _The Age of Surveillance Capitalism_ (2018), Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia diekstraksi menjadi data perilaku, kemudian diproses menjadi prediksi tentang apa yang akan dilakukan seseorang.

Dengan demikian, manusia bukan hanya pengguna teknologi, melainkan juga menjadi sumber bahan baku algoritma.

2. Alur Kerja Algoritma: Mengawasi Hingga Mengubah Perilaku

Kita menghasilkan data ketika mencari di Google, menggunakan media sosial, berbelanja daring, hingga ketika berhenti pada sebuah gambar beberapa detik lebih lama. Semakin banyak data yang tersedia, semakin akurat sistem membaca pola kita.

Menurut Zuboff, ada perubahan paradigma yang berbahaya:

Surveillance → Prediction → Intervention → Behavioral Modification

Bermula dari pengawasan, berujung pada pengendalian perilaku. Pada tahap pertama algoritma hanya membaca pikiran kita. Lalu tahap berikutnya mulai memprediksi apa yang akan kita lakukan. Pada tahap ketiga algoritma pelan-pelan akan membentuk perilaku kita agar semakin dapat diprediksi.

3. Ancaman Terhadap Otonomi Pikiran

Franklin Foer dalam bukunya _World Without Mind_ (2017) membawa persoalan ini lebih dalam. Foer tidak hanya khawatir soal privasi, melainkan terancamnya otonomi pikiran manusia.

Menurut Foer, perusahaan teknologi besar telah mengubah cara manusia memperoleh informasi. Algoritma dapat mendorong manusia menuju konformitas dan mengikis ruang kontemplasi pribadi.

Misalnya, seseorang membuka internet dengan niat mencari informasi. Dia merasa sedang memilih sesuai seleranya. Padahal algoritma telah menentukan urutan informasi yang muncul. Jadi, seseorang memang tidak kehilangan kemampuan memilih. Tapi yang terjadi adalah kehilangan kesadaran tentang siapa yang membentuk lanskap pilihannya.

4. Penjara Tanpa Jeruji di Era Digital

Jadi, algo sapiens juga menampilkan bentuk kekuasaan dan penjara baru yang berbeda dari penjara klasik. Kekuasaan algoritmik tidak memerlukan tembok dan ancaman, melainkan cukup mengatur lingkungan pilihan.

Kita masih dapat memilih, tetapi pilihan-pilihan yang tersedia telah disusun. Kita masih dapat membaca, tetapi bacaan apa yang muncul pertama sudah dipilihkan berdasarkan sistem rekomendasi. Inilah penjara tanpa jeruji yang paling halus.

5. Masyarakat Cemas di Tengah Kemudahan

Meskipun teknologi super canggih telah membantu kebutuhan hidup, kecemasan manusia tidak hilang. Dalam _The Anxious Society_, Han Byung-chul membaca zaman kita sebagai zaman yang diliputi kecemasan: takut gagal, tertinggal, dan kehilangan kemampuan mengendalikan hidup.

Jika gagasan Han, Zuboff, dan Foer digabungkan, kita mendapat rangkaian utuh. Zuboff menjelaskan bagaimana manusia selalu diawasi. Foer menjelaskan bagaimana pikiran terancam. Han menjelaskan kondisi manusia yang semakin cemas dan kesepian di tengah keramaian.

Saat ini kita semakin mudah memperoleh informasi, tetapi semakin sulit membedakan informasi yang kita cari dengan informasi yang membanjiri kita. Awalnya ini terasa sebagai kemudahan, kemudian menjadi kebiasaan dan ketergantungan.

Bahayanya, kebiasaan ini akan mendegradasi kapasitas kita sebagai homo sapiens. Daya ingat tidak terlatih dan daya analisis jadi tumpul. Manusia perlahan kehilangan pengalaman berharga dari salah memilih dan belajar dari kesalahan.

Pada akhirnya, manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, pernah salah, lupa, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang tinggi, tetapi kecerdasan bukanlah kebijaksanaan. Secanggih apapun teknologi, dia tak akan pernah bertanya tentang makna dan tujuan hidup. Ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung dan berempati, yang hilang bukan sekadar privasi, tetapi esensi kemanusiaan itu sendiri.

Penulis Opini: Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers

FAQ + Rank Math

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *