oleh

Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi dalam Perspektif Islam

Habarnusantara.com. OPINI. Setiap zaman melahirkan generasinya, dan setiap generasi memikul bebannya sendiri. Namun, menyaksikan dinamika pemuda hari ini, kita seperti sedang melihat potret sebuah generasi yang dipaksa dewasa dalam dekap ketidakpastian global akut. Generasi Z—mereka yang lahir di rentang akhir dekade 1990-an hingga awal 2010-an—kerap dilabeli secara peyoratif sebagai “generasi stroberi” yang tampak indah di luar, tapi lunak dan mudah hancur di dalam. Benarkah demikian? Ataukah kerapuhan yang tampak di permukaan itu sebenarnya adalah manifestasi dari luka struktural yang belum terdiagnosa secara jujur oleh zaman ini?

Jika kita menyelami lebih dalam, guncangan psikologis yang mendera mereka bukanlah akhir dari cerita. Semua itu merupakan fase krusial sebelum bendungan kesabaran itu jebol, bertransformasi menjadi gelombang resistensi yang berpotensi membalik arah peradaban menuju tata kehidupan yang lebih berkeadilan.

Dunia hari ini dikejutkan oleh data empiris yang mengonfirmasi bahwa kesehatan mental bukan lagi sekadar isu personal, melainkan krisis epidemiologis massal bagi kaum muda. Berbagai survei nasional dan global dengan gamblang menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia merupakan kelompok demografis yang paling rentan mengalami kecemasan ekstrem dan gangguan mental. Berdasarkan data empiris dari survei Jakpat, tercatat sebanyak 60% Gen Z di Indonesia mengaku didera kecemasan mendalam akan masa depan mereka. Ketakutan ini mewujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana 62% di antaranya mengalami perubahan suasana hati yang ekstrem (mood swings), 50% menderita gangguan tidur kronis atau insomnia, dan 38% menghadapi kecemasan berlebih yang konstan. Remaja kita saat ini benar-benar sedang berada di ambang krisis kesehatan mental yang sangat mengkhawatirkan. (data.goodstats.id, 8-42026) https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq)

Faktor pemicu dari fenomena “generasi cemas” ini sangatlah kompleks dan berkelindan. Paparan algoritma media sosial yang konstan menciptakan jebakan perbandingan sosial tiada henti, memicu sindrom kecemasan sosial (FOMO), serta paparan konten negatif yang mengikis ketahanan mental. Ditambah lagi tekanan ekonomi, beban finansial yang mencapai angka 57%, serta ekspektasi sosial setinggi 42% membuat mereka merasa terimpit.

Ironisnya, alih-alih mendapatkan ruang aman (safe space) dan empati untuk bertumbuh, anak-anak muda ini justru kerap menghadapi stigma buruk dari generasi di atasnya. Mereka dicap serba salah, dianggap kurang bersyukur, lemah, dan dicibir oleh generasi milenial maupun baby boomers yang gagap memahami bahwa lanskap tantangan hidup saat ini telah berubah total secara radikal. (Kompas.id, 18-6-2026) https://www.kompas.id/artikel/di-ambang-krisis-kesehatan-mental-remaja)

Baca juga: Fakta Mengejutkan Pemenuhan Listrik 

Fenomena ini bukanlah anomalistik lokal, melainkan gejala sistemis global yang melanda ratusan juta Gen Z di seluruh penjuru dunia. Hambatan struktural berupa ketidakpastian karier yang ekstrem berujung pada fakta pahit di mana ratusan juta pemuda global saat ini berstatus menganggur atau terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan pekerjaan informal yang eksploitatif. Kenyataan pahit ini memaksa mereka memandang masa depan dengan kacamata yang sangat skeptis. Namun, dari titik nadir depresi kolektif inilah hukum fisika sosial bekerja. Tekanan yang sedemikian masif perlahan melahirkan daya dorong balik yang luar biasa. Gejala frustrasi massal ini tidak lagi sekadar diekspresikan lewat tangisan di ruang privat, melainkan mulai mengkristal menjadi sebuah gelombang resistensi terorganisasi di berbagai belahan dunia. Sebuah gerakan menggugat kemapanan yang diprediksi mampu menjadi titik balik kebangkitan generasi ini.

Jika kita perhatikan bahwa krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini adalah hulu dari seluruh kecemasan Gen Z. Kita sedang hidup di era di mana krisis ekonomi, kerusakan ekologis, polarisasi politik, dan ketimpangan sosial terjadi secara simultan dan berkejaran. Gen Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya sadar bahwa mereka mewarisi planet yang rusak dan tatanan ekonomi yang rusak. Kecemasan mereka tidak tumbuh di ruang hampa, ia adalah respons rasional terhadap realitas objektif yang memang tidak menawarkan kepastian hidup. Menilai depresi mereka sekadar sebagai “kelemahan mental” adalah bentuk simplifikasi yang keliru sekaligus abai terhadap akar masalah yang sesungguhnya.

Secara sosiologis dan epistemologis, potensi luar biasa Gen Z sebagai penggerak perubahan sengaja dilemahkan secara sistematis oleh peradaban sekularistik-kapitalistik. Sistem hari ini berhasil mereduksi hakikat jati diri pemuda sekadar menjadi unit produksi ekonomi atau konsumen yang konsumtif. Melalui industri hiburan, komodifikasi gaya hidup, dan sekularisasi nilai, pemuda dijauhkan dari kesadaran ideologis dan identitas fitrahnya. Mereka dibuat sibuk dengan self-healing yang semu, pemujaan terhadap materi, dan kompetisi individualistis ala hustle culture. Akibatnya, potensi kepemimpinan dan ketajaman berpikir mereka tumpul, menyisakan jiwa-jiwa kosong yang mudah goyah ketika dihantam badai realitas kehidupan.

Kondisi ini diperparah oleh absennya fungsi negara dalam melakukan ri’ayah (pengurusan dan perlindungan) yang sahih terhadap generasi muda. Dalam paradigma neoliberal, negara sering kali memosisikan diri hanya sebagai regulator pasar, bukan pelayan umat. Pendidikan dikomersialisasi sedemikian rupa sehingga menjadi barang mewah, sementara lapangan kerja yang layak semakin menyusut dan tidak pasti. Alih-alih merangkul, membimbing, dan memitigasi trauma struktural yang dialami oleh para pemuda, aparat kebijakan dan struktur kekuasaan justru kerap kali memberikan label negatif. Absennya kehadiran negara yang mengayomi ini membuat pemuda merasa yatim piatu secara sosial, berjalan meraba-raba di tengah kegelapan peradaban tanpa arah kompas yang jelas.

Namun, di balik kegelapan analisis ini, terdapat secercah harapan yang sangat besar. Sifat kritis dan kecemasan tinggi yang dimiliki Gen Z sesungguhnya mengindikasikan bahwa hati nurani dan nalar mereka masih berfungsi normal. Mereka menolak mati rasa terhadap ketidakadilan. Ketika ketidakpuasan ini berpadu dengan literasi digital yang tinggi dan keterhubungan tanpa batas, kecemasan tersebut bergeser dari kecemasan pasif menjadi kesadaran kritis yang aktif.

Inilah peluang perubahan yang sangat monumental. Penderitaan bersama (collective suffering) yang mereka rasakan sedang mengelas ego individual menjadi solidaritas kolektif. Mereka berada di ambang kesadaran bahwa untuk mengubah nasib, mereka tidak bisa lagi berharap pada sistem yang ada, melainkan harus bergerak bersama menuju tatanan kehidupan baru yang lebih ideal.

Di sinilah urgensi menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ritual spiritualitas personal, melainkan sebagai mabda (ideologi) dan solusi komprehensif atas krisis peradaban global saat ini. Allah Subhanahu wa ta’ala telah menegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 107,
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan—politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial—terbukti secara historis mendatangkan rahmatan lil ‘alamin. Islam mengeliminasi akar kecemasan dengan menghapus eksploitasi kapitalistik, mendistribusikan kekayaan secara adil, serta memberikan ketenangan spiritual dan keselamatan hakiki bagi seluruh umat manusia tanpa memandang kasta.

Jika kita menengok lembaran sejarah, karakter generasi muda di masa kejayaan Islam berdiri kokoh bagaikan karang karena pondasi akidahnya yang sangat kuat. Mereka memiliki syakhshiyyah islamiyyah (kepribadian Islam) yang tepercaya, mengintegrasikan antara keluhuran pola pikir (aqliyyah) dan kesucian pola sikap (nafsiyyah). Kita mengenal sosok seperti Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid yang memimpin pasukan di usia belasan tahun, atau Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Mereka bukan generasi yang rapuh karena cemas akan urusan duniawi, melainkan pemuda yang visioner, bermental baja, sekaligus cakap dan genius dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan serta teknologi pada zamannya. Karena hidup mereka didedikasikan untuk visi besar akhirat.

Kekuatan karakter generasi tersebut bisa lahir karena ditopang oleh sistem politik Islam yang menempatkan negara sebagai pelindung (junnah) dan pelayan (ra’in) umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa seorang pemimpin adalah pemelihara dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Dalam negara Islam, negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar hidup—mulai dari pangan, sandang, papan, hingga pendidikan berkualitas tinggi dan layanan kesehatan gratis—bagi setiap warga negara secara adil dan merata. Jaminan struktural inilah yang menyapu bersih kecemasan finansial dan ketidakpastian masa depan dari pundak kaum muda, sehingga energi besar pemuda dapat dialokasikan sepenuhnya untuk berinovasi, berkarya, dan membangun peradaban, bukan habis terkuras hanya untuk bertahan hidup dari depresi ekonomi.

Oleh karena itu, tugas terpenting kita hari ini sebagai pengikut kanjeng Nabi Muhammad saw. adalah menyadarkan kembali Generasi Z akan poros perjuangan yang sesungguhnya. Mereka harus diajak untuk melompat dari sekadar resistensi tanpa arah menuju resistensi yang ideologis, yaitu dengan mengemban mabda Islam dan menumbuhkan kepedulian yang mendalam terhadap kondisi umat. Allah berfirman dalam surah Ali ‘Imran ayat 110,
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Ketika Gen Z menyadari peran takdirnya sebagai bagian dari khairu ummah, orientasi hidup mereka akan bertransformasi dari sekadar mengejar validasi semu di media sosial menjadi pemburu rida Allah dan penegak keadilan di muka bumi. Dengan pemahaman ideologis ini, impian akan hadirnya masa depan emas Indonesia dan peradaban dunia bukan lagi sebatas angan-angan utopis, melainkan sebuah kepastian sejarah yang sedang kita tenun bersama.

Khatimah

Pada akhirnya, Generasi Z bukanlah lembaran kosong tanpa arti. Bukan pula kaca rapuh yang ditakdirkan hancur oleh tekanan zaman. Kecemasan, depresi, dan skeptisisme yang mereka rasakan hari ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja dalam pelukan sistem sekuler. Namun, sejarah selalu mencatat bahwa transformasi besar dunia selalu dimotori oleh tangan-tangan pemuda yang berani melakukan resistensi terhadap kezaliman. Ketika energi resistensi Gen Z yang masif ini dituntun oleh cahaya wahyu Al-Qur’an dan dibimbing dengan ideologi Islam yang kokoh, mereka akan bermutasi menjadi kekuatan yang tak terbendung. Mereka akan bangkit dari puing-puing depresi, menghapus air mata kecemasan, dan melangkah dengan tegap memimpin umat manusia keluar dari kegelapan krisis menuju kegemilangan fajar Islam yang penuh berkah dan keselamatan.

Wallahu a’lam bishawab.[] 

Penulis: Restu Wulandari
(Pendidik & Pemerhati Kebijakan Publik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *