HABARNUSANTARA, Kaltim – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. IHSG ditutup anjlok 188,5 poin atau 3,64 persen ke level 4.996,6 pada penutupan sore ini.
Pada pembukaan pagi, IHSG bahkan sempat menyentuh 4.961,88 atau melemah 4,31 persen. Pelemahan ini melanjutkan tren anjlok 11,57 persen pada Jumat pekan lalu yang menjadi penurunan harian terdalam sejak krisis 1998.
Morgan Stanley Capital International
Tekanan utama datang dari wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan mengkaji ulang klasifikasi pasar saham Indonesia. MSCI sedang konsultasi publik untuk menurunkan Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Baca juga:
Resmi Kapolri Suyudi Ario Seto Ziarah Makam Marsinah di Nganjuk
Resmi PDIP Proses Pemecatan Hamenang Setelah Jadi Tersangka OTT KPK
Proses konsultasi tersebut baru akan diputuskan paling lambat Juni 2027 dan masih bersifat usulan. Namun pelaku pasar sudah melakukan aksi jual besar-besaran karena khawatir dana asing keluar.
Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, penurunan klasifikasi tersebut berpotensi membuat bobot saham Indonesia di indeks global MSCI hilang, sehingga memicu outflow.
IHSG, BEI Bursa Efek Indonesia
Selain isu MSCI, Bursa Efek Indonesia juga mengumumkan kebijakan penurunan batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan ini berlaku mulai hari ini 19 Oktober hingga akhir tahun untuk mengurangi kepanikan.
Sentimen eksternal juga menekan pasar. Rupiah hari ini ditutup melemah ke Rp 18.046 per Dolar AS, melemah 19 poin dari penutupan sebelumnya. Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian MSCI dan lonjakan harga minyak dunia yang menembus 110 Dolar AS per barel.
Dari sisi sektoral, seluruh sektor kompak rontok tanpa kecuali. Sektor barang baku mencatatkan koreksi paling dalam hingga 4,57 persen, disusul sektor infrastruktur susut 4,45 persen, sektor barang konsumen non-primer turun 4,09 persen, dan sektor barang konsumen primer melemah 3,88 persen.
Baca juga:
Kemenhan Kini Punya 2 Wamenhan Baru Hadapi Ancaman Modern
OTT Bupati Klaten, KPK Sita Tong Biru Rp1,9 Miliar
Sektor kesehatan terkoreksi 3,64 persen, sektor perindustrian turun 2,97 persen, sektor energi melemah 2,95 persen, sektor transportasi susut 2,91 persen, sektor properti turun 2,75 persen, sektor teknologi terkikis 2,46 persen, dan sektor keuangan melemah 2,18 persen.
Data perdagangan
Data perdagangan mencatat sebanyak 103 saham menguat, 691 saham terkoreksi, dan 169 saham stagnan. Total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 25,05 triliun dengan volume transaksi besar.
Saham teraktif dari sisi volume hari ini dipimpin PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan volume 5,9 miliar saham. Diikuti DSSA 684 juta saham, BTEK 513 juta saham, BBRI 460 juta saham, TLKM 411 juta saham, dan BMRI 380 juta saham.
Kendati IHSG ambles, empat saham justru melesat hingga mentok Auto Rejection Atas (ARA). Saham PNSE melonjak 25 persen menjadi Rp 480, saham TIFA melejit 25 persen ke level Rp 360, saham TRUK menguat 24,84 persen menjadi Rp 4.020, dan saham BSIM melesat 24,83 persen ke harga Rp 930.
Di indeks LQ45, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi bintang dengan penguatan 4,93 persen ke harga Rp 3.620 di tengah pasar merah.
Untuk meredam kejatuhan, tiga emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu dan Sinar Mas Group mengumumkan aksi buyback. BREN, CUAN, dan DSSA menyiapkan dana total Rp 2,5 triliun untuk buyback mulai hari ini.
MNC Sekuritas memprediksi IHSG masih rawan koreksi dengan support di 5.092 dan resistance di 5.295. Phintraco Sekuritas menyebut jika level psikologis 5.000 jebol, IHSG berpotensi menguji support selanjutnya di 4.700 hingga 4.800.
Investor diimbau tetap waspada, tidak melakukan pembelian secara all-in, dan mencermati perkembangan reformasi pasar modal yang dijanjikan OJK serta arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia pekan ini.
Investor diimbau tetap waspada, jangan all-in sebelum kepastian kebijakan BI muncul. Hal tersebut guna mengurangi kerugian bagi para investor.












