Habarnusantara, PALEMBANG – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan melalui operasi water bombing menggunakan helikopter mengalami kegagalan. Sebanyak 5 helikopter water bombing yang dikerahkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama TNI AU dilaporkan belum berhasil memadamkan api yang terus membesar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba).
Kegagalan tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan alat, melainkan karena faktor cuaca yang sangat tidak mendukung. Angin kencang dengan kecepatan mencapai 35 kilometer per jam dan suhu udara yang mencapai 38 derajat Celcius membuat api dengan cepat menjalar dan air yang dijatuhkan dari udara langsung menguap sebelum sempat membasahi titik api secara maksimal.
Baca juga: Instruksi Tegas Prabowo Atasi Karhutla Kalimantan Tengah Serius
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori, menjelaskan
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori, menjelaskan bahwa operasi water bombing telah dilakukan sejak tiga hari terakhir dengan total 120 kali pengeboman air. Setiap helikopter membawa sekitar 800 liter air dalam satu kali terbang, namun karena lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman hingga 3 meter, air tersebut tidak cukup untuk mematikan api yang berada di dalam tanah.
“Kita sudah kerahkan 5 helikopter, tapi hasilnya belum maksimal. Api di gambut ini beda dengan api di hutan biasa. Di atas padam, di bawah masih bara. Begitu angin datang, muncul lagi,” jelas Ansori saat ditemui di posko utama Karhutla Sumsel, Senin (13/10/2026).
Kondisi ini diperparah dengan sulitnya akses darat menuju lokasi kebakaran. Sebagian besar titik api berada di tengah-tengah lahan gambut yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga petugas darat harus berjalan kaki sejauh 4-5 kilometer dengan membawa peralatan pemadam manual seperti jet shooter dan sekop.
Baca juga: Prabowo Panggil KKP ke Hambalang, 100 Kampung Nelayan
Tim Manggala Agni yang berjumlah 150 personil
Tim Manggala Agni yang berjumlah 150 personil juga telah dikerahkan, namun mereka harus berjibaku dengan asap tebal yang membuat jarak pandang hanya 10 meter. Beberapa petugas bahkan sempat mengalami sesak napas dan harus dievakuasi ke posko kesehatan.
BNPB mencatat, hingga hari ini luas lahan yang terbakar di Sumsel sudah mencapai 1.240 hektare, dengan 15 titik api aktif yang masih terpantau oleh satelit Terra Aqua milik NASA. Titik api terbanyak berada di Kecamatan Tulung Selapan, OKI, yang merupakan kawasan perkebunan sawit yang berbatasan langsung dengan hutan produksi.
Pemerintah Provinsi Sumsel telah menetapkan status siaga darurat Karhutla sejak awal Oktober dan melarang semua aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar. Namun, dugaan pembakaran sengaja untuk membuka lahan baru masih menjadi penyebab utama.
Baca juga: Resmi! Samarinda Kejar UMKM di Tengah Zero Tambang 2026
Aparat Kepolisian
Pihak kepolisian juga telah mengamankan 4 orang yang diduga sebagai pelaku pembakaran lahan. Mereka akan dijerat dengan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.
Untuk mengatasi kegagalan water bombing, BNPB berencana mendatangkan 2 helikopter tambahan berkapasitas besar jenis Kamov yang mampu membawa 3.000 liter air sekali angkut. Helikopter tersebut diharapkan tiba di Palembang besok pagi dan langsung melakukan operasi pemadaman di titik-titik yang paling parah.
teknologi modifikasi cuaca (TMC)
Selain itu, teknologi modifikasi cuaca (TMC) juga akan kembali diterapkan. Pesawat Cessna milik BPPT akan melakukan penyemaian garam di atas awan-awan potensial di sekitar Sumsel untuk memancing turunnya hujan buatan. Upaya ini sebelumnya berhasil menurunkan hujan di beberapa wilayah di Riau dan diharapkan bisa berhasil juga di Sumsel.
Masyarakat di sekitar lokasi kebakaran juga diminta untuk ikut serta menjaga lahannya dan tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu api, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di lahan gambut. Pemerintah juga menyalurkan bantuan masker sebanyak 50.000 lembar kepada warga yang terdampak asap.
Meskipun water bombing gagal, pemerintah menegaskan tidak akan menyerah dan akan terus melakukan segala upaya untuk memadamkan api hingga tuntas. Semua pihak diminta untuk bersabar dan mendukung upaya petugas di lapangan yang telah bekerja siang malam tanpa henti.












