oleh

Penerapan Coding dan AI di Sekolah Samarinda Dinilai Butuh Kesiapan Guru dan Fasilitas

HABARNUSANTARA, SAMARINDA – Perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat membawa tantangan baru bagi sekolah-sekolah di Samarinda.

Di tengah dorongan penerapan pembelajaran berbasis teknologi seperti coding dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kesiapan guru dan fasilitas pendidikan menjadi perhatian agar siswa tidak tertinggal dalam mengikuti perkembangan zaman.

Menanggapi hal tersebut, ketua komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengungkapkan perubahan kurikulum tidak bisa dipandang hanya sebagai pergantian materi pelajaran semata.

Menurutnya, transformasi pendidikan harus diiringi peningkatan kualitas tenaga pengajar agar proses adaptasi terhadap metode pembelajaran baru dapat berjalan efektif di lingkungan sekolah.

“Perkembangan pendidikan berlangsung sangat dinamis, mulai dari perubahan kurikulum, metode belajar, hingga pemanfaatan teknologi. Karena itu, kesiapan tenaga pendidik menjadi faktor utama agar proses adaptasi berjalan baik,” Ungkap Novan sapaan karibnya. Jum’at (22/5/2026).

Novan juga menyoroti tiga aspek penting yang dinilai menentukan kualitas pendidikan daerah, yakni kurikulum, kompetensi tenaga pengajar, serta sarana dan prasarana sekolah.

Dirinya menilai ketiganya saling berkaitan, terutama ketika sekolah mulai diarahkan menerapkan pembelajaran coding dan AI yang membutuhkan dukungan teknologi sekaligus kemampuan guru yang memadai.

“Program berbasis teknologi harus diiringi penguasaan materi oleh tenaga pengajar. Jika guru masih beradaptasi sementara sistem sudah berjalan, maka proses pembelajaran dikhawatirkan tidak maksimal,” Ucap Novan.

Politisi dari partai Golkar itu berharap tantangan pendidikan di Samarinda saat ini bukan hanya menyiapkan siswa menghadapi era teknologi, tetapi juga menjaga identitas budaya daerah.
“Muatan lokal tetap penting untuk menjaga jati diri daerah. Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan secara menyeluruh, baik dalam teknologi maupun pembelajaran budaya lokal,” Tutup Novan. (ADV)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *