Habarnusantara.com, SAMARINDA – Munculnya genangan di sejumlah kawasan Kota Samarinda saat hujan kembali turun sekitar dua pekan lalu menjadi perhatian serius menjelang datangnya musim penghujan. Pemerintah Kota Samarinda diminta segera mengevaluasi titik-titik terdampak agar penyebab genangan dapat diketahui dan segera ditangani secara permanen.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abdul Rohim mengatakan, evaluasi terhadap kejadian banjir dan genangan sebelumnya harus menjadi dasar utama dalam menentukan lokasi perbaikan infrastruktur drainase di Kota Tepian.
Dengan demikian, penanganan tidak hanya bersifat sementara dengan menyedot air menggunakan pompa, tetapi harus menyasar persoalan utama yang menyebabkan air melimpas ke jalan dan permukiman warga.
Baca juga: Kebakaran Hutan Samarinda 608 Hektare, DPRD Imbau Waspada
Titik Banjir Samarinda
“Dari hasil evaluasi yang kemarin, di titik-titik banjir itu dilakukan review apakah sistem drainasenya sudah berfungsi dengan baik atau belum,” kata Rohim, di Samarinda, Sabtu (10/10/2026).
Ia menjelaskan, evaluasi tersebut perlu mencakup kondisi fisik saluran secara menyeluruh, mulai dari kemiringan atau elevasi drainase, tingkat sedimentasi atau pendangkalan, hingga kemungkinan adanya sampah dan bangunan liar yang menghambat aliran air menuju sungai.
Pemerintah juga harus memastikan seluruh saluran yang tersedia terhubung dengan baik menuju sungai utama, seperti Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam, agar air tidak tertahan di kawasan permukiman.
Rohim mencontohkan persoalan konektivitas kolam retensi di kawasan Sempaja, Samarinda Utara, yang disebut belum memiliki saluran keluar atau outlet menuju drainase di Jalan PM Noor. Kondisi tersebut perlu segera ditindaklanjuti agar infrastruktur pengendalian banjir yang telah dibangun dengan anggaran miliaran rupiah dapat bekerja sesuai fungsinya.
Menurutnya, sistem pengendalian banjir di Samarinda harus dilihat secara menyeluruh dan terintegrasi. Kolam retensi, drainase lingkungan, drainase primer, dan saluran menuju sungai tidak dapat bekerja optimal jika salah satu bagian mengalami hambatan atau tidak terhubung.
“Kalau kolam retensi ada tapi tidak ada outletnya, ya sama saja air akan tetap menggenang. Ini yang harus disambungkan,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah kota memanfaatkan kondisi cuaca yang masih relatif kering pada Oktober ini untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikan di lapangan. Langkah tersebut dinilai sangat penting mengingat musim hujan di Kota Samarinda diprediksi akan mulai masuk pada pertengahan November 2026 berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun APT Pranoto.
Baca juga: Harga BBM Pertamina Kaltim 1 Oktober 2026 Terbaru Tidak Naik
Andul Rohim
Rohim mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan berpotensi meningkatkan risiko genangan dengan durasi lebih lama ketika hujan berintensitas tinggi terjadi pada puncak musim hujan Desember hingga Januari mendatang.
Karena itu, titik rawan banjir dan genangan seperti di Jalan Gerilya, Jalan AW Syahranie, Sempaja, dan Sungai Kunjang perlu menjadi prioritas utama dalam program pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur tahun ini.
Ia berharap evaluasi yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda dapat menghasilkan langkah konkret sebelum musim hujan tiba, sehingga kejadian genangan di lokasi yang sama dapat diminimalkan dan tidak terus berulang setiap tahun.
Baca juga: Emas Antam Anjlok Rp15.000 Hari Ini
DPRD Kota Samarinda
DPRD Samarinda sendiri, kata Rohim, akan terus mengawal anggaran penanganan banjir agar tepat sasaran. Pada APBD 2026, alokasi untuk normalisasi drainase dan pembangunan kolam retensi baru mencapai puluhan miliar rupiah.
Namun, tanpa evaluasi teknis yang matang, pembangunan infrastruktur baru dikhawatirkan tidak menyelesaikan akar masalah banjir di Samarinda yang sudah terjadi puluhan tahun.
Masyarakat juga diminta ikut berperan menjaga kebersihan drainase dengan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air. Kesadaran warga menjadi kunci pendukung agar sistem drainase yang sudah diperbaiki tetap berfungsi dengan baik saat hujan deras mengguyur Kota Samarinda.
Dengan persiapan matang sebelum November, diharapkan Samarinda bisa lebih siap menghadapi musim hujan dan mengurangi keluhan warga terkait genangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari terutama akses jalan, aktivitas sekolah, dan ekonomi warga yang sering lumpuh saat banjir datang tiba-tiba.
Ia menambahkan, karena itu kita meminta untuk Pemkot Samarinda agar bersiap-siap sebelum banjir membanjiri kota. Segala kemungkinan itu perlu di siapkan sejak sekarang.












