oleh

Islam Membebaskan Gen Z dari Beban Finansial

Habarnusantara.com – OPINI. Islam Membebaskan Gen Z dari Beban Finansial. Membahas gen Z, sungguh tidak pernah ada habisnya. Mereka yang lahir dan tumbuh di zaman medsos sangat jauh berbeda dari sisi kecenderungan, sifat, dan sikap hidup dengan generasi sebelumnya. Teknologi yang berkembang pesat hari ini memberi peluang dan pilihan yang beragam bagi generasi muda.

Namun, di balik akses yang mudah itu ada risiko yang harus dihadapi. Hal ini terbukti dari hasil survei Deloitte Global Gen Z and Millenial Survey tahun 2025, bahwa terdapat 48% gen Z yang merasa tidak aman secara finansial. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang masih sekitar 30%.

Berdasarkan survei ini, diketahui bahwa biaya untuk menutupi kebutuhan hidup menjadi masalah pokok yang membebani gen Z. Setiap gajian mereka harus membayar sewa rumah, tagihan listrik, air yang merupakan pengeluaran bulanan yang tidak bisa ditunda. Mereka pun memiliki beberapa kebiasaan yang dianggap sebagai kebutuhan, seperti: belanja online, memperpanjang layanan musik digital, kulineran viral, nonton film di bioskop atau berburu tiket konser.

Kebiasaan tersebut menjadi wajar di kalangan mereka dan dikenal dengan istilah _self reward, little treat_ atau healing tipis-tipis. Bagi generasi sebelumnya, mungkin itu disebut pemborosan. Akan tetapi, bagi gen Z hal itu merupakan cara menghargai diri sendiri setelah bekerja sebulan penuh.

(https://money.kompas.com/read/2026/08/12/124653526/gaji-gen-z-dan-self-reward-menikmati-hidup-healing-atau-menabung)

Tekanan Ekonomi Kapitalisme

Demikianlah, fakta gen Z yang saat ini terjepit tekanan ekonomi akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler. Biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup terus naik, baik sandang, pangan, maupun papan. Bahkan, pendidikan, keamanan ,dan kesehatan pun menjadi jasa komersial yang mengikuti harga pasar. Ditambah biaya transportasi yang tidak murah karena BBM-nya mengacu pada harga internasional.

Baca Juga: Titik Balik

Semua itu harus ditanggung oleh individu rakyat. Sementara negara tidak hadir kecuali hanya sebagai regulator dan fasilitator para pemilik modal. Negara lepas tangan dari kewajiban mengurus rakyat dan menjamin kebutuhan dasarnya. Akhirnya, generasi muda berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup di tengah godaan gaya hidup konsumtif.

Adanya fenomena self reward, healing, little treat dan konsumsi hedonis merupakan gaya hidup sekuler liberal yang muncul akibat beban kerja dan tekanan ekonomi yang ada. Gen Z menganggap itu hal wajar, bahkan dianggap sebagai “solusi” kepenatan setelah bekerja keras. Keberadaan iklan di medsos yang mencekoki mereka dengan sesuatu yang viral dan memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya impulsif, semakin memperparah keadaan. Sehingga mereka menjadi konsumtif dan tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Belanja bukan lagi sebagai aktivitas ekonomi, tapi untuk memperoleh validasi, kesenangan bahkan identitas. Lebih dari itu, mereka pun terpapar dengan apa yang disebut doom spending, yaitu kecenderungan belanja secara impulsif untuk menenangkan diri, ketika seseorang merasa pesimis terhadap ekonomi dan masa depan.

Sebenarnya di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam yang menimpa gen Z, yaitu mereka tidak memahami tujuan dan alasan mengapa dihidupkan, untuk apa dan harus bagaimana mereka menjalaninya. Sistem sekuler kapitalisme yang berlaku di negeri ini tidak mampu memberi jawaban yang memuaskan tentang makna dan arah hidup. Akhirnya, kebanyakan orang hanya mengikuti tren yang terus berganti. Ukuran kebahagiaannya hanya sebatas materi, penghasilan, jabatan, pengalaman dan popularitas.

Di sinilah masalah gen Z, mereka membutuhkan paradigma yang sahih tentang kehidupan, bukan hanya pandai mengatur finansial. Jika tidak, masalah baru akan terus datang tanpa tersolusikan secara tuntas.

Sistem Islam

Banyak orang tidak mengetahui bahwa pernah ada sebuah sistem pemerintahan yang dahulu diterapkan oleh suatu negara, yang mampu menjamin seluruh kebutuhan dasar semua rakyatnya. Di mana kesehatan, pendidikan dan keamanan, semua diberikan secara gratis. Sementara pangan, sandang dan papan dipenuhi lewat mekanisme tidak langsung.

Melalui penerapan ekonomi yang berdasarkan wahyu, negara mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif. Sehingga lapangan pekerjaan tersedia melimpah. Setiap laki-laki pencari nafkah termasuk gen Z, tidak berjuang sendiri karena negara hadir mengatasi masalah mereka. Biaya hidup terjangkau dan stabil, transportasi murah dan perumahan bagi rakyat diperhatikan penguasa. Masyarakat hidup aman sentosa dan sejahtera seperti itu hanya ada di negara yang menerapkan sistem Islam secara kafah.

Dalam naungan sistem Islam, negara akan melindungi generasi dari paparan ide yang merusak seperti sekularisme, kapitalisme, hedonisme dan lain-lain. Konten-konten di medsos akan difilter oleh negara dan hanya beredar konten yang berisi edukasi, informasi, dan hal-hal yang bisa meningkatkan ketakwaan masyarakat. Kurikulum pendidikan Islam diterapkan untuk membentuk individu yang memiliki visi hidup yang benar, bahwa dunia sifatnya sementara hanya sekadar untuk ladang beramal dan akhirat yang kekal sebagai tujuan.

Dengan demikian, akan terlihat pada generasi, gaya hidup sederhana. Harta yang mereka miliki bukan untuk kesenangan duniawi yang sesaat. Akan tetapi, dijadikan bekal untuk kehidupan akhirat dengan memanfaatkannya sesuai syariat.

Lebih dari itu, Islam mampu menyelesaikan berbagai persoalan, mulai dari akarnya dengan cara membangun paradigma yang benar tentang hakikat kehidupan manusia. Islam tidak hanya mengatur bagaimana memanfaatkan harta, tapi juga menjawab pertanyaan mendasar tentang siapa manusia, untuk apa dia hidup, dan akan kemana nantinya, juga bagaimana ketentuan mendapatkan harta dan membelanjakannya. Termasuk apa peran negara terhadap rakyatnya.

Jika sistem Islam diterapkan, akan lahir generasi yang bervisi jauh ke depan, tidak impulsif dan mengikuti tren semata. Akidah mereka kokoh karena memahami firman Allah dalam QS. Adz-Dzariat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah padaku.

Wallahu a’lam Bissawwab. []

Penulis: Umi Lia

(Member Akademi Menulis Kreatif)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *