Habarnusantara.com –OPINI. Titik Balik Gen Z Menuju Perlawanan. Berbagai survei menyebutkan Gen Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. (https://data.goodstats.id/statistic/60-gen-z-di-indonesia-cemas-akan-masa-depan-84aBq)
Faktor pemicunya sangat beragam, mulai dari pengaruh media sosial (medsos), tekanan sosial, dan lain-lain. Fenomena ini menggejala di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karier dan masa depan membuat Gen Z bersikap lebih skeptis. Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.
Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Bagaimana tidak, permasalahan yang ada hari ini faktanya kian hari kian naik, kasus satu belum selesai kemudian disusul lagi oleh kasus lainnya. Contohnya saja mulai dari finansial, kasus banyaknya generasi Z yang menganggur. Hal ini sebagaimana informasi dari laman berita bahwa setidaknya 262 juta generasi Z di dunia tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak ikut pelatihan. Ini menjadikan generasi muda saat ini disebut sebagai generasi cemas, bukan generasi emas. (https://www.kompas.id/artikel/ratusan-juta-gen-z-di-dunia-menganggur)
Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuler kapitalistik. Peradaban sekuler kapitalistik ini senantiasa menjadikan standar kebahagiaan diukur dari banyaknya keuntungan atau materi yang diperoleh dan kehidupan jauh dari aturan Islam sehingga apa pun bisa dilakukan untuk mencapai keuntungan atau materi tanpa perlu memperhatikan standar halal dan haram menurut syariat Islam.
Baca Juga: Diskon PBB
Selain itu, peradaban sekuler kapitalistik ini dengan asas sekulernya juga menjadikan abainya riayah (pengurusan) negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul dan diriayah, generasi muda ini justru sering kali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. Tapi, sering kali sikap kritis Gen Z ini diabaikan oleh negara, dan tak jarang mereka yang kritis sering kali berujung pada pembungkaman dan bisa dikenai ancaman.
Hanya Islam satu-satunya solusi dari krisis yang melanda dunia hari ini. Penerapan Islam mendatangkan rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam), membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia dan termasuk alam semesta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]: 124)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjauh dari petunjuk Allah akan membawa pada kesempitan hidup, sedangkan ketika syariat Islam dijadikan sebagai pedoman hidup, maka akan menghadirkan ketenangan dan keberkahan. Oleh karena itu, solusi atas berbagai krisis yang dihadapi generasi hari ini bukan sekadar perubahan individu, melainkan juga penerapan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Sejarah pernah mencatat bahwa karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat. Generasi di masa kejayaan Islam itu berkepribadian Islam (bersyakhsiyah Islam), maksudnya memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan pada akidah dan syariat Islam. Generasi di masa Islam juga ahli dalam berbagai bidang keilmuan.
Contohnya yaitu Muhammad Al-Fatih, di mana beliau dikenal sebagai pemimpin yang kuat keimanannya, cerdas dalam strategi, serta menguasai ilmu militer, bahasa, dan pemerintahan. Ibnu Sina, beliau menguasai berbagai bidang keilmuan, terutama kedokteran dan filsafat, dan menulis karya-karya yang menjadi rujukan selama berabad-abad. Kemudian, ada juga Usamah bin Zaid, beliau sosok yang berkepribadian Islam sekaligus pemimpin muda, Al-Khwarizmi berkepribadian Islam sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan di antaranya yaitu matematika, astronomi dan sebagainya, serta masih banyak lagi tokoh generasi di masa Islam lainnya.
Hal ini juga didukung oleh negara yang hadir penuh dan sadar akan perannya sebagai pelindung dan pelayan umat. Selain itu, negara juga menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil dan merata. Sehingga kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan), termasuk kesehatan, pendidikan dan keamanan akan dijamin pemenuhannya oleh negara.
Selain itu, negara dalam sistem Islam tentu saja menerapkan aturan Islam dalam menjalankan kehidupan ini. Semua yang dituju dan dikerjakan senantiasa menjadikan rida Allah sebagai tujuan dalam perbuatannya. individu yang ada dibangun keimanannya dan ketakwaannya kepada Allah, masyarakat yang ada juga tidak akan luput dari berdakwah, amar makruf nahi mungkar jika ada kekeliruan atau kesalahan yang harus diluruskan, dan negara akan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam kehidupannya.
Untuk menciptakan serta menghadirkan negara yang menerapkan syariat Islam dalam kehidupan ini perlu perjuangan yang tidak main-main. Apalagi menyadarkan generasi muda yang potensinya masih sangat besar ini agar pemuda hari ini mau mengarahkan semangat, pemikiran, dan kemampuannya untuk berkontribusi dalam membangun peradaban Islam. Selain itu peran kita untuk menyadarkan pemuda hari ini mengemban mabda (ideologi) Islam dan peduli terhadap kondisi umat. Dengan demikian, masa depan generasi emas bukan lagi sebatas angan-angan saja, tetapi menjadi cita-cita yang terus diperjuangkan bersama oleh kita kaum muslimin. Wallahu a’lam bishawab. []
Penulis: Asih Lestiani
Aktivis Muslimah







Komentar