oleh

Gen Z Terimpit: Antara Tekanan Ekonomi dan Budaya Hedonisme

Habarnusantara.com – OPINI. Gen Z Terimpit: Antara Tekanan Ekonomi dan Budaya Hedonisme. Hari gajian adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap pekerja. Akhirnya gaji yang ditunggu pun masuk ke rekening. Betapa bahagia rasanya karena mendapatkan hasil dari kerja keras yang telah dilakukan selama sebulan.

Akan tetapi, walaupun sudah mendapatkan gaji tetap setiap bulan, masih banyak orang yang merasa tidak aman secara finansial, terutama Gen Z. Berdasarkan survei generasi Z dan milenial global deloitte, sebanyak 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Banyak hal yang melatarbelakangi kondisi ini, seperti biaya hidup yang makin naik, pola hidup, dan ketidakpastian akan masa depan.

Semua kecemasan itu tentunya wajar jika melihat kondisi kehidupan saat ini, ekonomi sulit, praktik korupsi di semua aspek, kriminalitas meningkat, dan sebagainya, tetapi anehnya, di tengah tekanan ekonomi alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Walau tidak semua Gen Z melakukan hal ini.

Self reward, healing, dan gaya hedonis merupakan alasan untuk pelarian stres atau kebutuhan secara emosional ini. meskipun biasanya kebahagiaan yang didapat sementara atau sebentar saja.

Baca Juga: Islam Membebaskan

Setelah itu, rasa senang akibat pelepasan dopamin di otak akan berganti menjadi penyesalan, kecemasan terhadap kondisi keuangan mulai muncul lagi, hingga akhirnya ketika tekanan emosional datang lagi mereka melakukan  self reward lagi, healing lagi, dan begitu seterusnya.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/08/12/124653526/gaji-gen-z-dan-self-reward-menikmati-hidup-healing-atau-menabung

Maka, yang harus dilakukan sebenarnya adalah mencari penyebab utama kecemasan tersebut dan juga menemukan akar masalah serta solusi yang tepat agar kecemasan hilang dan kebahagiaan bisa dirasakan secara utuh. Salah satu solusinya adalah mencari penyebab tekanan ekonomi terjadi.

Sekularisme Melahirkan Gaya Hidup Fomo

Ekonomi yang semakin merosot terjadi karena sistem yang diterapkan hari ini adalah sistem kapitalisme. Biaya hidup saat ini yang terus naik tapi gaji tidak ikut naik membuat Gen Z makin terimpit. Negara kita sendiri lepas tangan dari kewajibannya menjamin kebutuhan dasar, sehingga Gen Z harus berjuang sendirian di tengah kehidupan yang sulit.

Tekanan ekonomi yang dirasakan Gen Z makin diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self reward, healing, sebagai solusi pelarian.

Media sosial juga memengaruhi gaya hidup sekuler liberal. Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren popular yang memicu FOMO (fear off missing out) dan budaya belanja impulsif.

Kehidupan di lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat juga turut memengaruhi gaya hidup sekuler liberal. Di lingkungan keluarga misalnya, orang tua tidak mendidik anak dengan Islam. Anak tidak diajarkan menggunakan uang dengan bijak, tidak diajarkan untuk hidup hemat, belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Terlebih di lingkungan pertemanan juga bisa memengaruhi cara remaja bersikap. Misal, anak berteman dengan anak-anak yang hedonis, FOMO, dan lainnya.

Lingkungan berpengaruh penting terhadap tumbuh kembang, mulai dari pola pikir hingga pola sikap. Maka kemungkinan anak terpengaruh dengan kebiasaan temannya ini bisa terjadi.

Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, di mana Gen Z menganggap bahwa orang bahagia itu punya uang banyak, punya tas _branded_ misalnya dan lainnya, bukan dari rida Allah dan kemuliaan Islam.

Alhasil selama pola kehidupan semacan itu terus terjadi, kecemasan yang dialami oleh Gen Z maupun masyarakat secara umum akan tetap terasa. Oleh karena itu, selanjutnya Gen Z perlu mencari solusi tepat yang mampu mengurai semua permasalahan itu dan memiliki jalan keluar lain yang mampu melahirkan kebahagiaan dan rida Allah, yaitu sistem Islam.

Islam Memenuhi Kebutuhan dan Menjaga Pemahaman

Dalam Islam, negara menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan keamanan. Smeua itu akan diberikan secara langsung oleh negara dari hasil pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) oleh negara.

Untuk sandang, pangan, dan papan diberikan negara secara tidak langsung dengan cara negara memastikan agar setiap laki-laki mendapatkan lapangan kerja yang layak untuk memenuhi kewajibannya sebagai pencari nafkah, sehingga rakyat, terkhusus Gen Z tidak akan berjuang sendiri.

Sedangkan kesehatan dan keamanan akan diberikan secara langsung oleh negara. Di mana hal itu diambil dari hasil pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) oleh negara.

Islam juga akan menutup pintu gaya hidup yang hedonis. Konten-konten yang bisa merusak seperti konten sekuler kapitalis dan turunannya tidak akan dibiarkan beredar di tengah-tengah masyarakat sehingga bisa melindungi generasi dari budaya hedonis dan FOMO.

Media dalam negara Islam akan diarahkan untuk edukasi dan ketakwaan masyarakat. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu kita hidup untuk beribadah kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Oleh katena itu, masyarakat terutama Gen Z, setiap hendak melakukan sesuatu akan berlandaskan kepada syariat Islam, bukan yang lain. Mereka juga sudah paham terkait masalah, penyebab, serta solusi yang harus mereka perjuangkan. Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam.

Untuk itu, sebagai generasi penerus, sudah menjadi keharusan mendesak bagi Gen Z untuk melakukan perjuangan memperbaiki kerusakan yang terjadi saat ini agar masa depan mereka lebih baik dari hari ini.

Wallahu a’lam. []

Penulis : Hj. Fatimah, S.H

Aktivis Dakwah & Pemerhati Remaja

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *