Habarnusantara.com – OPINI. Selawat Menggema, Jalan Rasulullah Terlupa? Setiap Rabiul Awal tiba, kecintaan umat Islam kepada Rasulullah kembali terasa. Selawat menggema di masjid dan majelis, tablig akbar digelar, bahkan berbagai kegiatan peringatan Maulid dilaksanakan di tengah masyarakat. Tahun ini, Kementerian Agama mengajak 1.781.945 umat Islam untuk berselawat melalui kegiatan _Blissful Maulid 1448 H_. Gema Selawat Kebangsaan disebut sebagai ruang untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan bermasyarakat.
Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1742109/15/peringati-maulid-nabi-muhammad-kemenag-ajak-1781945-umat-berselawat-untuk-negeri-1787468922
Mencintai Rasulullah ﷺ dan memperbanyak selawat merupakan perkara mulia. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendalam yang patut kita renungkan: setelah selawat dilantunkan, sudahkah kita benar-benar mengikuti jalan yang beliau tempuh? Sebab, cinta kepada Rasulullah bukan sekadar rasa haru ketika namanya disebut.
Cinta semestinya melahirkan ittiba’, yakni kesediaan mengikuti beliau dalam menjalankan risalah Islam. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Ali Imran: 31)
Ayat ini menegaskan bahwa cinta membutuhkan bukti. Maka, keteladanan kepada Rasulullah ﷺ tidak semestinya hanya dibatasi pada kejujuran, kelembutan, kesabaran, kasih sayang, dan akhlak mulia. Semua itu penting, tetapi Rasulullah ﷺ juga merupakan pembawa risalah yang melakukan perubahan mendasar di tengah masyarakat.
Beliau datang ketika manusia berada dalam kehidupan jahiliah, ketika penghambaan kepada Allah bercampur dengan penghambaan kepada selain-Nya. Rasulullah ﷺ kemudian membangun kesadaran tauhid, mengubah cara pandang manusia, membentuk kepribadian Islam, dan mengarahkan masyarakat agar tunduk kepada aturan Allah Swt. Di sinilah makna Maulid seharusnya diperluas. Jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ berhenti sebagai ekspresi emosional tanpa konsekuensi dalam kehidupan.
Baca Juga: Gen Z Terimpit
Hari ini, umat Islam memang banyak berbicara tentang perubahan. Berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, keluarga, hingga kerusakan moral mendorong lahirnya tuntutan perubahan. Namun, perubahan sering kali hanya diarahkan pada pergantian individu atau kebijakan, sementara akar sistem yang membentuk kehidupan tidak disentuh.
Dalam pandangan Islam, persoalan manusia bukan sekadar persoalan teknis. Ketika kehidupan dibangun di atas sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme, orientasi materi serta kebebasan manusia mudah menjadi ukuran utama. Akibatnya, agama semakin dipersempit pada wilayah privat, sementara aturan Allah tidak dijadikan pedoman menyeluruh dalam mengatur kehidupan. Karena itu, umat membutuhkan perubahan yang mendasar. Islam datang bukan hanya untuk mengatur ibadah individual, tetapi membawa seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan dalam dakwah dan perubahan masyarakat. Perjuangan beliau dimulai dengan tatsqif, yakni membina individu dengan pemikiran dan kepribadian Islam. Kemudian dilanjutkan dengan tafa’ul ma’al ummah, berinteraksi dengan masyarakat untuk menyampaikan pemikiran Islam dan membangun kesadaran umat. Hingga akhirnya datang fase istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan.
Maka, Maulid semestinya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran tersebut. Bukan sekadar bertanya, “Seberapa banyak kita berselawat hari ini?” tetapi juga, “Seberapa jauh kita mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah?”
Jangan sampai lisan kita basah menyebut nama beliau, tetapi kehidupan kita justru jauh dari petunjuknya.
Jangan sampai air mata jatuh ketika mengenang perjuangan beliau, tetapi kita tidak peduli ketika umat kehilangan arah.
Maulid bukan tentang mengenang kelahiran seorang manusia mulia. Ia adalah momentum untuk kembali kepada risalah yang beliau bawa. Sebab Rasulullah tidak datang hanya untuk membuat kita kagum kepada sosoknya. Beliau datang membawa cahaya Islam agar manusia keluar dari kegelapan menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.
Semoga selawat yang kita lantunkan tidak berhenti di bibir. Semoga ia menghidupkan hati, membangunkan kesadaran, dan mendorong kita untuk benar-benar mengikuti jejak Rasulullah dalam menjalankan risalah Islam.
Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak sekadar menjadi ucapan, tetapi menjelma menjadi ketaatan dan perjuangan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena mencintai Rasulullahﷺ bukan hanya tentang merindukan beliau, tetapi juga tentang bersungguh-sungguh mengikuti jalan yang beliau tunjukkan, yakni jalan dakwah dan penerapan Islam dalam institusi Daulah. Allahu a’lam Bish showaab. []
Penulis: Eka Sulistya
Aktivis Dakwah













Komentar